Berharap Beragam Cita Dari Tren Olahraga - Validnews

Berharap Beragam Cita Dari Tren Olahraga - Validnews Rss Online Berharap Beragam Cita Dari Tren Olahraga - Validnews, Olahraga,

Judul Postingan : Berharap Beragam Cita Dari Tren Olahraga - Validnews
Share link ini: Berharap Beragam Cita Dari Tren Olahraga - Validnews

BACA JUGA


Berharap Beragam Cita Dari Tren Olahraga - Validnews

JAKARTA – Dhiani Proboshiwi (24) ingat betul. Hari itu, Minggu (7/9/2017) ia menyantap sebuah pisang dan sebutir vitamin di kamar sewaan di Crown Guest House, Ambarawa, Jawa Tengah. Setelah itu, sekira pukul 03.30, mahasiswa jurusan Sastra Inggris, Universitas Diponegoro itu bergegas pergi menuju MesaStila Resort & Spa, Magelang Jawa Tengah untuk mengikuti acara MesaStila Peak Challenge 2017.

“Naik ojek dari penginapan ke venue,” kata Dhiani kepada Validnews, Kamis (13/6).

Sehari sebelumnya, Dhiani mengaku grogi mengikuti lomba lari. Padahal acara serupa bukan pertama kalinya ia ikuti. Rasa grogi ini membuatnya tidur tak nyenyak. Ia mengaku hanya ‘tidur ayam’ dari pukul 22.00 WIB hingga terbangun dipukul 02.00 WIB dini hari setelahnya.

Namun, usahanya tidak sia-sia. Persiapan yang jauh hari dilakukan, membuatnya berhasil menuntaskan jarak sejauh 42 kilometer. Kegiatan berlari, awalnya hanya sekadar kesenangan bagi Dhiani. Lalu, ia mencoba pertama kalinya di ajang Borobudur Marathon tahun 2016. Selepas itu, berbagai lomba lari ia ikuti.

“Tujuan awal buat kesehatan fisik dan mental,” ucapnya.

Ketertarikan sama dimiliki oleh Badrun Ajjah (25). Alasan ikut lomba lari awalnya untuk mengisi waktu luang. April 2019, adalah kali pertama ia mengikuti acara lomba bernama  BFI Run 2019. “Suka olahraga aja. Sekalian tambah relasi, sekaligus mengisi waktu luang,” cerita dia, kepada Validnews, Sabtu (15/6).

Anggota komunitas lari, Playon Jogja, Ayu Isnaini Rahmaniar (22) berpendapat, olahraga lari saat ini telah menjadi tren. Dan, tren ini dilakukan banyak orang dengan banyak alasan berbeda-beda. Dia bercerita, saat pertama kali mengikuti event lari awalnya karena ajakan teman. Kini, lari buatnya bukan sekadar olahraga. Lari telah menjadi gaya hidup. Banyaknya komunitas lari di banyak kota, hingga pelosok Tanah Air, adalah bukti kini lari sudah menjadi bagian keseharian masyarakat.

Di atas kertas, lomba lari memang mengalami peningkatan. Tercatat di lima tahun terakhir, berdasarkan pengamatan dari laman ayolari.inpada 2013 acara lomba lari masih di angka 34. Namun, setahun berselang meningkat drastis menjadi 104 acara. Begitu juga pada 2015 sebanyak 132 perhelatan digelar. Dan, pada 2016 mencapai 193. Kemudian pada 2017, ada 288 lomba digelar. Pada tahun berikutnya, ini meningkat menjadi  342 acara. Pada Tahun ini, hingga Juni saja tercatat tiap bulannya digelar minimnya 21 lomba. Banyaknya gelaran ini juga terkait dengan besarnya porsi penduduk penyokongnya.

Berdasarkan Proyeksi Penduduk Indonesia 2010–2035, yang diterbitkan oleh Badan Pusat Statistik (2013), jumlah penduduk Indonesia pada 2017 mencapai 261,89 juta jiwa. Bila merujuk pada kategorisasi generasi, milenial di Indonesia saat ini berjumlah sekitar 24,15% atau sebanyak 63,23 juta jiwa. Mereka adalah penduduk berusia 20 hingga 34 tahun pada 2017. Generasi inilah yang saat ini menjadi penentu banyak lini kehidupan, termasuk tren olahraga saat ini.

Kecenderungan hidup sehat melalui kegiatan olahraga ini juga memperlihatkan tren yang meningkat. Data Badan Pusat Statistik (BPS) memperlihatkan pada 2015, terdapat 27,61% penduduk berusia 10 tahun ke atas yang melakukan olahraga. Meskipun belum besar, tetapi proporsi ini meningkat dari periode sebelumnya yang tercatat sebesar 24,99% (2012) dan 21,76% (2009).

Data tersebut memperlihatkan bahwa masyarakat Indonesia sudah mulai sadar pentingnya berolahraga. Lebih spesifik, generasi muda semakin memperhatikan kesehatan melalui kegiatan olahraga. Selain itu, di tingkat Asia, bisa dibilang orang Indonesia merasa kesehatannya lebih baik dibanding warga di negara lain.

Dari survei yang dilakukan oleh Sun Life Financial Asia 2017, jumlah orang Asia merasa dirinya sehat turun drastis, kecuali Indonesia yang stabil bahkan cenderung naik. Untuk kawasan Asia, penurunan tajam pada persentase jumlah masyarakat yang berpandangan positif berkenaan dengan kondisi kesehatan jasmani (turun 7%) dan kesehatan mental (turun 8%).

Hal ini memperkuat temuan-temuan terdahulu pada studi yang dilakukan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Temuan itu menyebutkan adanya kekhawatiran tentang munculnya penyakit terkait gaya hidup modern, serta makin meroketnya jumlah masyarakat di Asia yang menyatakan bahwa mereka tidak memiliki waktu. Penyakit baru ini juga erat hubungannya dengan mereka yang merasa menurun motivasinya dalam menjalani kehidupan yang lebih sehat.

Hampir sepertiga dari jumlah total responden (29%) menyatakan bahwa terdapat penurunan kondisi kesehatan mereka dibandingkan dengan kondisi tiga tahun lalu. Mereka menyebutkan kurangnya olahraga sebagai alasan yang paling sering diutarakan sebagai penyebab penurunan angka tersebut (36%).

Lebih dari setengah (52%) responden dari wilayah yang disurvei mengatakan tidak rutin berolahraga. Sedangkan jenis olahraga yang paling banyak disebut oleh responden sebagai jenis olah raga yang paling diminati, berturut-turut adalah lari (54%), renang (45%) dan bersepeda (44%).

Kebiasaan tidak sehat yang paling sering dikutip adalah kurangnya waktu tidur, yakni kurang dari 6 jam per hari (31%) dan mengkonsumsi makanan tidak sehat secara rutin (28%).

Lalu, bagaimana dengan Indonesia? Angka persentase untuk responden Indonesia terbilang paling baik dibandingkan dengan angka rata-rata responden di negara-negara Asia. Sebanyak 62% responden dari Indonesia menyatakan bahwa mereka merasa lebih sehat dari kondisi tiga tahun yang lalu.

Angka ini tertinggi di kawasan Asia. Hanya 21% responden Indonesia yang merasa menurun kesehatannya dibandingkan dengan 3 tahun lalu. ‘Kurangnya berolahraga’ juga menjadi alasan yang paling sering diungkapkan.

Meskipun 51% responden memberikan indikasi bahwa mereka tidak berolahraga secara rutin, namun jenis-jenis olahraga yang paling ingin dilakukan oleh orang Indonesia serupa dengan rata-rata keinginan orang Asia lainnya, yaitu berlari (60%, tertinggi di wilayah Asia), bersepeda (55%), dan berenang (45%).

Setuju dengan data tersebut, Ayu menyebut, berlari adalah olahraga sederhana yang bisa dilakukan kapan saja. Karena itu mereka yang ingin membiasakan hidup sehat, salah satunya upaya yang ditempuh adalah dengan berlari.

Di beberapa kota besar, lari dijadikan sebagai event tahunan. Kerap kali dalam hitungan jam sudah slot untuk peserta lari sudah tutup. Dan kebanyakan kota-kota menawarkan sport tourism, seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Bali, serta Yogyakarta sendiri. Sebab, selain berlari kebanyakan event lari juga diiringi berwisata.

Event lomba lari di Yogyakarta misalnya, seperti yang diketahui ada banyak penawaran wisata yang cukup mumpuni untuk tidak sekadar mengikuti lomba lari, tetapi juga pelesiran.

“Ada turut andil dari pemerintah setempat untuk melakukan promosi ke pelbagai penjuru,” ungkap Ayu kepada Validnews, Sabtu (15/6)

Ia menilai, ini juga tak lepas dari dukungan pemerintah terhadap event lari. Tak jarang, pemerintah menggandeng komunitas dalam bentuk dukungan dan ikut andil menangani event tersebut.

“Dukungan mereka dalam bentuk perizinan, dana, dan promosi,” jelasnya.

Pihak Swasta
Selain pemerintah, adapun dukungan disematkan oleh penyelenggara, dalam hal ini pihak swasta. Salah satunya PT Nestlé Indonesia. Dalam rangka ulang tahun DKI Jakarta ke-492 yang bertepatan pada 22 Juni, Nestlé MILO mendapat kepercayaan dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk menyelenggarakan MILO Jakarta International 10K dengan tema “A Decade of MILOJI10K”.

Acara ini nantinya akan diselenggarakan pada 14 Juli 2019 di Kawasan Rasuna Epicentrum Kuningan, Jakarta dan akan diikuti sekitar 16.000 pelari dari dalam maupun luar negeri.

Business Executive Officer Beverages Business Unit PT Nestlé Indonesia, Prawitya Soemadijo menjelaskan, setelah menyelenggarakan 10 tahun acara, ia berharap mampu menginspirasi seluruh peserta dan keluarga Indonesia untuk mengadopsi gaya hidup sehat dan aktif.

Event itu bakal melombakan lima kategori lari, yakni 10K Open International, 10K Indonesian Only, 10K Indonesian Student, 5K Indonesian Only, serta Family Run 1.7K. Selain itu, juga tersedia berbagai area bermain seperti Champions Corner, dan juga area baru yaitu Energy2Play.

"Ada juga yang baru kali ini, adalah kelas berlari. Itu dilaksanakan sebelum event berlangsung," ujar Dardityo Santoso, Race Director Milo Jakarta International 10K 2019 usai konferensi pers di FX Sudirman, Jakarta, Minggu (16/6).

Disampaikannya, kelas lari diselenggarakan untuk mendorong suasana agar peserta bisa lebih semangat dan mendapat hasil yang lebih baik dalam aspek catatan waktu dan aspek lainnya. Para peserta akan mendapatkan pengetahuan mengenai cara berlari yang baik dan benar. Jadi, dapat terhindar dari cedera saat mengikuti perlombaan, dan para peserta juga mendapatkan pengetahuan mengenai cara menjaga daya tahan tubuh serta stamina saat mengikuti perlombaan.

Rute lomba lari Milo Jakarta International 10K 2019 ini,  menurut Dardityo Santoso, start akan dimulai dari Rasuna Epicentrum dan finis di tempat yang sama.

Sementara itu, Rahman Defiandi selaku Kepala Seksi Pengembangan Olahraga Pendidikan Bidang Pengembangan Olahraga Dinas Pemuda dan Olahraga DKI Jakarta menyatakan bahwa pihaknya sangat mendukung acara tersebut yang melibatkan ibu kota sebagai tempat penyelenggaraan. Sebutan olahraga rekreasi itu bisa membudayakan hidup sehat, serta mampu mempromosikan pariwisata daerah.

“Ini menjadi visi misinya kami, menjadikan masyarakat Jakarta bugar,” ucap dia, Jumat (14/6).

Senada, Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Persatuan Atletik Indonesia (PB PASI), Tigor M. Tanjung menyampaikan apresiasi terhadap kian maraknya lomba lari.  Dengan adanya ajang itu, ia menilai bahwa tren lari semakin populer di kalangan masyarakat.

PB PASI selaku otoritas tertinggi di bidang atletik, kerap kali bertindak sebagai pembantu pelaksana teknis. Karena, kata dia, melaksanakan sebuah kegiatan atletik itu ada aturannya, juga ada persyaratan yang harus dipenuhi agar mendapat pengakuan internasional. Catatan waktu yang ditempuh sampai garis finis melampaui rekor nasional ataupun rekor dunia. Itu kan tidak bisa sembarangan melaksanakannya.

“Semua itu harus diukur oleh tenaga pengukur yang bersertifikat yang diakui oleh International Association of Athletics Federations (IAAF), dalam hal ini PB PASI,” ungkapnya, Jumat (14/6), kepada Validnews.

Semakin menjamurnya acara lari ini, ia justru berharap bukan sekadar melihat kehidupan yang mengedepankan jiwa sehat dan bugar saja. Ia juga berharap jika segenap penyelenggara berani meningkatkan kelasnya dari bronze level, silver label, maupun menjadi gold label. Artinya, jika ada tiga label itu bisa masuk ke World Major Marathon. Seri World Marathon Majors terdiri dari lomba marathon yang diadakan di enam kota, yaitu Tokyo, Boston, London, Berlin, Chicago, dan New York. Dua lomba lain yang ditambahkan dalam seri ini adalah Kejuaraan Dunia Marathon IAAF dan Olimpiade Marathon.

Sementara, Kepala Sub Bidang Wisata Olahraga dan Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition (MICE) Deputi Bidang Pengembangan Industri dan Kelembagaan Kementerian Pariwisata, Nur Fatonah berpersepsi lain soal ini. Ia menjelaskan, selain sport tourism atau wisata olahraga terdapat pula istilah sport and leisure atau spoleisure

Destinasi tidak hanya menawarkan fasilitas-fasilitas untuk kegiatan olahraga, tetapi juga terdapat unsur leisure bagi peserta yang mengikuti kegiatan olahraga. Nah, kegiatan lari, diharap bisa selaras dengan kebutuhan wisata itu. Nur Fatonah mengungkapkan bahwa kontribusi dari sport event adalah sebesar 10% dari penerimaan dunia atau wisatawan.

Menurut catatannya, kontribusi wisata olahraga yang diolah dari data Organisasi Pariwisata Dunia (UNWTO) Highlight 2018, bahwa international tourist arrival (kedatangan wisatawan internasional) 2017 mencapai 1.326 juta kedatangan. Sementara, international tourist receipt (penerimaan dari kedatangan turis) 2017 mencapai 1.340 juta US Dollar.

 “Penyelenggaraan seperti sport event memang telah menjadi salah satu faktor untuk memicu dalam mendatangkan wisman dan wisnus yang cukup signifikan ke destinasi penyelenggara,” bebernya kepada Validnews, Jumat (14/6).

Event olahraga dapat menjadi salah satu alat untuk menarik kedatangan wisatawan nusantara maupun wisatawan mancanegara. Sayangnya, kerap kali yang dilihat dari event internasional ini, adalah jumlah kedatangan partisipan dan media untuk kebutuhan penginapan. Dari sini saja, memang terlihat peningkatan.

Pada 2013, ada 9 juta kedatangan. Jumlahnya meningkat pada 2014 menjadi 13 juta kedatangan. Dan, tahun berikutnya menjadi 15 juta kedatangan. Naik kembali pada 2016, menjadi 16 juta kedatangan. Hal itu belum termasuk suporter dan penonton, dan peserta dari tahun 2013 sampai 2016 lebih dari 54 juta. Jika semua dihitung, pasti peningkatan lebih besar pula.

Namun, tak bisa dimungkiri, Nur Fatonah mengakui dalam mengembangkan sport tourism ini kerap kali ditemui kendala.

“Masih banyak kendala dalam pengembangan sport tourism baik dari segi keuangan, kolaborasi, kesiapan, dan blueprint atau grand design yang harus segera direalisasikan untuk memberikan arah pada setiap keputusan yang diambil untuk pengembangan sport tourism itu sendiri,” kata dia.

Tantangan dalam pengembangan sports tourism, yakni persoalan kebijakan, belum maksimalnya sport marketing & event management, pengelolaan lokasi olahraga yang belum maksimal, dikarenakan banyaknya tantangan yang dihadapi antara lain tantangan sosial, tantangan teknologi, tantangan finansial, dan tantangan kebijakan yang mencakup.

Tren positif itu juga tertuang oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia. Deputi III Bidang Pembudayaan Olahraga Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia, Raden Isnanta memandang, sejatinya Indonesia strategis untuk mengembangkan wisata olahraga. Akan tetapi, menurut dia, peminat wisata olahraga masih di bawah 50%. Sebab, Indonesia masih mengandalkan wisata alam. Jadi, yang datang hanya sekadar menikmati alam.

“Oleh karenanya butuh usaha keras. Terutama kerja sama antara Kementerian Pariwisata dan Kemenpora itu harus diperkuat,” ucapnya, saat ditemui Validnews di kantornya, Jakarta Pusat.

Dari potensi ini, layaklah jika muncul harapan membuncah terhadap hasil komprehensif dari banyaknya lombar lari. Di samping meningkatkan partisipasi masyarakat, ada keinginan agar mutu pelari juga meningkat sehingga muncul atlet baru di kelas internasional. Di sisi lain, pemasukan devisa juga bertambah. Banyaknya lomba lari juga dicitakan memunculkan agenda-agenda wisata yang selaras, berujung dengan peningkatan wisatawan. (Fajar Setyadi, Yunita Permata Fitri)



Share on Google Plus

- Silly

-.

0 Comments :

Post a Comment